Rabu, 06 Juni 2012

Limbah Tahu Untuk Bahan Biogas

Limbah Tahu Bahan Biogas Alternatif

Techno = | Selasa, 5 Juni 2012 23:37 WIB

 
Metrotvnews.com, Nganjuk: Langkanya gas elpiji di sejumlah daerah, membuat sebagian orang berpikir mencari bahan bakar alternatif. Salah satunya dengan membuat biogas dari limbah tahu, seperti yang dilakukan Sarip, warga Desa Sekar Putih, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Air limbah tahu yang biasanya dibuang, mampu diubah menjadi biogas. Sarip membuat alat digester yang berfungsi mengubah air limbah menjadi gas melalui proses fermentasi. Alat itu dibuat dengan bantuan dinas lingkungan hidup setempat.

Prosesnya cukup sederhana. Awalnya air limbah tahu dimasukkan ke tabung degister. Di dalam tabung, air limbah akan dipisahkan antara air dan gas melalui proses fermentasi oleh bakteri anaerob selama dua minggu. Setelah gas terpisah dengan air, gas disalurkan ke kompor gas melalui pipa PVC. Sedangkan air limbah disalurkan ke tempat pembuangan.

Selain dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangganya sendiri, biogas air limbah itu juga disalurkan Sarip ke rumah tetangga lainnya. Dengan biogas tersebut, Sarip mampu menghemat biaya produksi tahunya.

Biasanya untuk membeli gas elpiji, Sarip harus merogoh kocek hingga Rp50 ribu. Dengan menggunakan biogas, Sarip tidak lagi perlu memikirkan bahan bakar untuk produksi tahu dan keperluan rumah tangganya.(Abdur Rahman/Wtr4)

 

Senin, 28 Mei 2012

Substrat utama Biogas Jerman adalah tanaman Jagung

Setelah 'Demam' Jagung Muncul Biogas dari Tumbuhan Liar Ekologis

Rubrik: Teknologi      


dw.de

Biogas di Jerman yang terutama memanfatkan bahan baku tanaman monoklutur jagung dihujani kritik. Kini diteliti pemanfaatan campuran beragam tanaman liar ekologis sebagai alternatif yang atraktif.
 
Di Jerman muncul fenomena yang disebut para pengritik sebagai "demam jagung". Dalam beberapa tahun terakhir, areal tanaman jagung meningkat drastis.  Tahun 2011 tercatat lahan budidaya jagung seluas 2,5 juta hektar, atau naik hampir 50 persen dibanding areal tanam tahun 2005 yang luasnya sekitar 1,7 hektar.
 
Meningkatnya animo warga membangun instalasi pembangkit listrik biogas, dipicu rangsangan ekonomi yang dicanangkan pemerintah di Berlin. Listrik hijau dari instasi biogas yang dijual ke jejaring listrik resmi dijamin tarifnya pada kisaran antara 6 hingga 22 cent Euro per Kilowatt-jam.
 
Saat ini di seluruh Jerman terdapat sekitar 7100 instalasi biogas. Daya listrik yang dibangkitkannya keseluruhan mencapai 2800 Megawatt, atau setara dengan daya dua PLTN besar.
 
kaskus

Seperti ditulis dw.de, substrat utama yang sudah teruji kehandalannya bagi instalasi biogas di Jerman adalah tanaman jagung. Korelasi antara instalasi biogas dan budidaya jagung menjadi sulit dipisahkan lagi. Sebagai konsekuensi dari booming di sektor bisnis listrik biogas itu, adalah terus bertambah luasnya areal budidaya jagung. Tren ini kelihatannya terus bertahan.
 
Melihat perkembangan terbaru, para pelindung lingkungan mengritik budidaya monokultur jagung sebagai pemasok utama substrat biogas. Selain rentan serangan hama, penanaman semacam itu juga perlu bahan kimia dalam jumlah besar. Baik untuk pemupukan atau sebagai pembasmi hama.
 
Tanaman liar sebagai alternatif
Riset terbaru menunjukkan, korelasi jagung-biogas juga bisa diubah. Budidaya campuran beragam tanaman liar terbukti menjadi alternatif yang menarik. Neraca yang bisa ditarik, pada akhirnya  energi yang diproduksi tidak lebih mahal dibanding energi dari tanaman jagung.
 
Dinas pertanian anggur dan pertamanan di negara bagian Bayern tahun 2009 mulai melakukan ujicoba penanaman 25 jenis tumbuhan, kebanyakan bunga liar di lahan percobaan. Tahun berikutnya areal ujicoba diperluas menjadi 25 hektar. Tahun 2011 areal ujicoba bertambah menjadi 200 hektar di berbagai kawasan di Jerman.
 
Riset dirancang dilakukan selama 5 tahun. Untuk setiap wilayah dilakukan modifikasi ringan pada tanaman, sesuai kondisi lokal. Alam dibiarkan memainkan peranan terbesar pada tanaman riset. Lahan tanaman sumber energi berkembang menjadi ekosistem yang berharga.
 
Lebih ekonomis
Salah satu kawasan proyek percobaan adalah Konstanz di selatan Jerman. Di kota yang terletak di pinggir danau Bodensee itu dilakukan penanaman campuran beragam tumbuhan liar di areal seluas 28 hektar. Kawasan Bodensee merupakan ekologi yang ringkih dan budidaya monokultur jagung akan mengancam ekosistem keseluruhan.
 
Hasil proyek percobaan itu, sejauh ini cukup menggembirakan. Lahan penanamannya diolah dengan teknik pertanian yang baku. Hasil panen menunjukkan volume antara 50 hingga 70 persen volume panen tanaman jagung yang dijadikan acuan.
 
Walaupun volume panen tanaman liar lebih rendah dari tanaman jagung, namun secara ekonomi keduanya setara, kata Jochen Goedecke dari proyek percontohan Konstanz. "Sebagai kompensasi dari lebih rendahnya volume panen per hektarnya, harus dihitung penghematan ongkos lainnya", tambahnya.
 
Tanaman bunga liar itu hanya disemai sekali dan dapat terus menerus dipanen sampai lima tahun. Hal itu menghemat ongkos bibit serta ongkos menyewa mesin penyemai bibit.
 
Ramah lingkungan
Yang lebih penting lagi, ongkos bahan kimia pertanian samasekali tidak ada. Sebab tanaman liar itu tidak perlu dipupuk atau disemprot racun anti hama. Artinya, selain iongkos keseluruhan lebih murah dibanding tanaman jagung, budidaya tanaman liar juga lebih bersahabat dengan lingkungan.
 
Keuntungan lainnya, ekosistem baru dari beragam tanaman, mendorong naiknya keragaman hayati. Kawasan tumbuhan liar itu membuka ruang perlindungan bagi hewan liar dan bunga-bunga menjadi daya tarik bagi lebah atau tabuhan.
 
Tanpa bahan kimia juga berarti kualitas tanah dan air tanah akan meningkat. Sementara semakin jarangnya penggunaan mesin di lahan penanaman, mengurangi pemampatan tanah yang memicu erosi. Tambaha  lagi, tumbuhan bunga liar juga menjadi atraksi pemandangan indah.
 
Namun berbagai keunggulan tanaman bunga liar dibanding tanaman jagung, belum mampu menarik pertanian para petani. Masalahnya, pola pikir petani dan pengusaha biogas sudah terpateri pada tanaman jagung. Di lain pihak juga terdapat pemikiran yang sulit diubah, bahwa lahan pertanian harus bebas dari tanaman liar. Jadi bunga liar masih dianggap sebagai gulma yang harus dibasmi, bukannya dibudidayakan sebagai sumber energi.

Kamis, 19 April 2012

PAKAN BERGIZI DARI LIMBAH TERNAK


Artikel 1.


Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele Organik


Budidaya Ikan Lele
Peluang usaha budidaya ikan lele masih terbuka lebar bagi anda yang berminat menekuninya, banyak yang sudah sukses dalam usaha budidaya ikan lelke, akan tetapi tidak sedikit pula yang gulung tikar karena harga pakan yang mahal.
Tapi ada cara lain untuk budidaya ikan lele yang lebih hemat biaya, yaitu dengan menggunakan “ kotoran Sapi “ sebagai pakan. Cara ini ternyata sangat baik untuk pertumbuhan ikan lele dan rasanya pun lebih gurih daripada ikan lele yang diberi pakan sentrat.
Cara ini sangat populer di daerah Banyuwangi Jawa Timur. Dengan memberi pakan ikan lele secara Organik maka seakan lele hidup di alam bebas, dimana hidupnya dari makan bahan2 organik.
Tentu ini sangat baik jika anda barengi dengan ternak Sapi. Sebab anda bisa menggunakan kotorannya sebagai pakan ikan lele anda. Namun anda juga bias mencarinya di sekitar anda.
Hasil panen dari Budidaya ikan lele Organik dengan ikan lele non organik sangatlah berbeda. Ikan lele organic hasilnya bisa lebih panjang   20 – 35 cm. Warnanya juga berbeda, ikan lele organic biasanya warnanya agak kemerah-merahan terutama di bagian sirip dan insang. Sedangkan ikan lele non organic warnanya agak kehitam-hitaman.
Keuletan dan kesabaran sangat di butuhkan dalam budidaya ikan lele organic. Sebab akan melalui beberapa proses.
Pertama, adalah penebaran benih lele pada kolam berisi air dan kotoran sapi yang telah dikomposing selama satu bulan. Kotoran sapi tersebut ditempatkan dalam tiga karung goni tertutup. Bila benih berusia dua minggu, kemudian dilakukan seleksi untuk benih yang berukuran 4-5 milimeter.
Benih tersebut dipisahkan di kolam berikutnya selama dua minggu hingga benih berdiameter 10 milimeter. Dua minggu berikutnya, lele diseleksi untuk yang berukuran 20 milimeter. Sejak benih lele berdiameter 10 milimeter itu, kolam yang berisi air dicampur langsung dengan pupuk organik dari kotoran sapi hingga setinggi 20 centimeter.
Dari cara ini, kotoran sapi akan menghasilkan banyak plankton yang menjadi makanan utama lele. Lele organik, baru siap dipanen saat usianya delapan minggu. Keuntungan lainnya, air di dalam kolam lele tidak menghasilkan bau busuk seperti halnya lele non organik. Sehingga ia tak perlu repot mengganti air dalam kolam. “Menghemat biaya dan tenaga “.
Ikan Lele masih menjadi makanan favorit di masyarakat. Namun kebanyakan yang beredar, mengandung residu akibat pemakaian bahan kimia yang tinggi. “Berbeda, kalau organik sudah bebas zat kimia”. Sementara ditilik dari segi gizi, Ikan lele organik tingkat kolestorelnya lebih rendah karena mengandung asam lemak tak jenuh.
Semoga Bermanfaat.

============================================

Artikel 2.

Pakan Ternak (Manfaatkan Kotoran untuk Lele)

Ikan yang berkumis dan licin serta gesit (ikan lele), banyak menarik perhatian banyak orang untuk membudidayakannya. Saat ini stok lele sangat jauh dari mencukupi, permintaan pasar akan ikan lele sangat banyak sedang produksi lele masih kurang. Sudah banyak yang berkolam ikan lele tetapi banyak di antara mereka yang berguguran, sehingga ikan lele di pasar masih terus kekurangan. 

Tentu banyak faktor penyebab banyaknya pengolam yang berguguran. Di antaranya, kurangnya pengetahuan akan teknik berkolam lele, tidak bisa membuat pakan alternatif sederhana untuk ikan lele, terlalu tergantung dari pakan ikan pabrik yang harganya tinggi, tidak bisa memanfaatkan potensi alam sekitar yang sangat banyak untuk meningkatkan produksi ikan lele dengan meminimkan ketergantungan pakan pabrik dan digantikan dengan pakan yang ada di sekitar lingkungan.

Salah satu cara untuk meningkatkan income dari kolam lele adalah dengan memanfaatkan limbah ternak lain seperti kambing, sapi dan ayam. Tentu ini diperlukan sedikit ilmu bagaimana teknik agar limbah ternak itu bisa digunakan sebagai pakan ikan lele.

Untuk membuat pakan ikan lele dari limbah ternak dan teknik pemberiannya dengan memanfaatkan bakteri tertentu yang biasa disebut sebagai bakteri probiotik. Bakteri Probiotik ini digunakan untuk mengolah kotoran ternak sehingga terjadi proses fermentasi dimana dalam proses ini akan mengakibatkan panas yang akan membunuh bakteri lain yang tidak berguna sehingga limbah ternak tersebut aman untuk dikonsumsi ikan lele.

Teknik pemberiannya adalah dengan memasukkan limbah hasil fermentasi ke dalam kolam setelah ikan berumur 20 hari serta diberikan sebagai tambahan sewaktu memberi makan ikan. Maksudnya sewaktu memberi makanan ikan dengan pelet (pakan pabrik) kemudian diikuti dengan pakan limbah ternak hasil fermentasi. Maka ikan lele akan tumbuh lebih cepat, sehat dan daging ikan lele lebih padat sehingga rasa ikan lele seperti ikan lele sungai. Dengan teknik ini untuk satu kolam isi 10.000 ikan cukup diberikan 10 sak pakan pelet sampai panen, tentu ini sangat membantu meminimalkan penggunaan pakan pabrik, dan income akan jauh meningkat. Selain itu Anda bisa menghemat penggunaan air.


Rumen Sapi
Isi rumen merupakan salah satu limbah rumah potong hewan yang belum dimanfaatkan secara optimal bahkan ada yang dibuang begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah ini sebenarnya sangat potensial bila dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak karena isi rumen disamping merupakan bahan pakan yang belum tercerna juga terdapat organisme rumen yang merupakan sumber vitamin B.

Kandungan zat makanan yang terdapat pada isi rumen sapi meliputi: air (8,8%), protein kasar (9,63%), lemak (1,81%), serat kasar (24,60%), BETN (38,40%), Abu (16,76%), kalsium (1,22%) dan posfor (0,29%) dan pada domba meliputi: air (8,28%), protein kasar (14,41%), lemak (3,59%), serat kasar (24,38%), Abu (16,37%), kalsium (0,68%) dan posfor (1,08%) (Suhermiyati, 1984). Widodo (2002) menyatakan zat makanan yang terkandung dalam rumen meliputi protein sebesar 8,86%, lemak 2,60%, serat kasar 28,78%, fosfor 0,55%, abu 18,54% dan air 10,92%. Berdasarkan komposisi zat yang terkandung didalamnya maka isi rumen dalam batas tertentu tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bila dijadikan bahan pencampur ransum berbagai ternak.

Di dalam rumen ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Cairan rumen mengandung bakteri dan protozoa. Konsentrasi bakteri sekitar 10 pangkat 9 setiap cc isi rumen, sedangkan protozoa bervariasi sekitar 10 pangkat 5 - 10 pangkat 6 setiap cc isi rumen (Tillman, 1991). Beberapa jenis bakteri/mikroba yang terdapat dalam isi rumen adalah (a) bakteri/mikroba lipolitik, (b) bakteri/mikroba pembentuk asam, (c) bakteri/mikroba amilolitik, (d) bakteri/mikroba selulolitik, (e) bakteri/mikroba proteolitik Sutrisno dkk, 1994)

Jumlah mikroba di dalam isi rumen sapi bervariasi meliputi: mikroba proteolitik 2,5 x 10 pangkat 9 sel/gram isi rumen, mikroba selulolitik 8,1 x 10 pangkat 4 sel/gram isi rumen, amilolitik 4,9 x 10 pangkat 9 sel/gram isi, mikroba pembentuk asam 5,6 x 10 pangkat 9 sel/gram isi, mikroba lipolitik 2,1 x 10 pangkat 10 sel/gram isi dan fungi lipolitik 1,7 x 10 pangkat 3 sel/gram isi (Sutrisno dkk, 1994). Mikroorganisme tersebut mencerna pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan proein untuk membentuk mikrobial dan vitamin B.
Berdasarkan hasil penelitian Sanjaya (1995), penggunaan isi rumen sapi sampai 12% mampu meningkatkan pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan ayam pedaging dan mampu menekan konversi pakan ayam pedaging

 Seorang Manusia yang selalu ingin menjadi lebih baik

========================================================

Artikel 3.


=============================================

Artikel 4.



Pakan Bergizi dari Limbah Ternak

Pemanfaatan kotoran sapi bukan lagi terbatas untuk pupuk. Dengan modifikasi makanan sapi, kotoran yang dihasilkan bisa jadi bah.an baku pakan ikan dan unggas.
Ferdinand
SELAIN sebagai pupuk, kotoran sapi nyatanya bisa pula dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat pakan ikan dan unggas. Yang satu ini boleh jadi belum banyak yang tahu, karena memang masih terbilang baru.
Itulah yang kini sedang dikembangkan Soelaiman Budi Sunarto, pendiri usaha rekayasa teknologi pertanian, Agromak-mur, di Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Ide tersebut muncul empat bulan lalu, berawal dari keinginannya untuk meningkatkan nilai ekonomis kotoran sapi. Kebetulan, Soelaiman memiliki tiga sapi.
Selama ini, kotoran binatang itu digunakan sebagai bahan membuat biogas dan ampasnya dijadikan pupuk.
Namun, sejak dirinya beralih menggunakan sekam padi yang nilai jual pupuk organiknya lebih tinggi, kotoran sapi itu menjadi kurang termanfaatkan.
Padahal dalam sehari, satu ekor sapi bisa menghasilkan 20 kilogram kotoran. Kalau nga ekor sapi, berarti setiap harinya ada 60 kilogram kotoran yang menumpuk di kandang.
"Setelah berhari-hari berpikir, muncul ide dijadikan pakan ikan saja. Apalagi harga pakan yang dihasilkan pabrik terbilang mahal," katanya saat ditemui di tempat usahanya yang berhawa sejuk, Selasa (22/2).
Ide tersebut segera direalisasikan. Kotoran sapi mulai dikumpulkan. Namun, tidak sembarangan. Kotoran yangv-. ,fi -,
digunakan harus yang padat dan tidak berbau. "Kalau tidak padat, tidak bisa mengapung, sedangkan kalau masih bau kotoran, ikan tidak mau," ujar pria yang meraih penghargaan inovator bergengsi dari Menteri Negara Riset dan Teknologi 2009 itu.
Untuk menghasilkan kotoran seperti itu, memang harus dilakukan perubahan sumber makanan. Sapi diberi pakan jerami yang telah dikeringkan selama satu minggu. Selain itu, diberi minum hanya dua kali sehari, masing-masing satu ember dengan campuran bakteri pengurai yang diambil dari rumen (perut besar sapi).
Bakteri pengurai itu bisa diambil dari rumen sapi yangtelah mati dari rumah pemotongan atau dari sapi yang masih hidup. Untuk cara yang kedua ini, perut sapi dilubangi atau dibuatkan fistula.
Cara kedua itulah yang digunakan Soelaiman. Selain bakteri pengurai bisa diambil setiap saat, sapi yang digunakan tetap hidup secara normal. Setiap hari, Soelaiman mengambilsepertiga isi rumen. Jumlah tersebut dapat menghasilkan tiga liter air yang mengandung jutaan bakteri.
Kotoran sapi itu kemudian dikeringkan dan dicampur dengan sumber nutrisi tambahan, seperti bekatul atau kulit ari beras, tetes tebu atau air kelapa, ikan asin, serta tepung tapioka.
Soelaiman telah menggunakan pakan kotoran sapi ini untuk usaha perikanannya sendiri. Ikan-ikan lele yang berada di kolam miliknya dikatakan lebih cepat besar ketimbang ikan yang diberi pakan buatan pabrik.
Jika menggunakan pakan produksi pabrik, membutuhkan waktu paling tidak tigahingga empat bulan. Kini, Soelaiman hanya butuh dua bulan untuk mencapai panen.
Digabungkan dengan biogas
Soelaiman mengatakan penyelamatan lingkungan akan lebih besar jika digabungkan dengan produksi biogas. Sebelum dijadikan pakan, kotoran sapi dimanfaatkan dulu sebagai sumber biogas.
Memang, kotoran sapi telah diketahui banyak mengandung gas metana yang ikut menghasilkan efek rumah kaca. Menurut lembaga antariksa Amerika Serikat (AS) NASA, gas metana ini bahkan lebih aktif ketimbang karbon dioksida.
Jumlah gas metana di udara semakin meningkat dengan pertumbuhan industri peternakan. Badan perlindungan lingkungan AS, EPA, menyebutkan usaha peternakan menghasilkan 5,5 juta metrik ton metana per tahun atau mencapai 20% dari produksi metana negara tersebut.
Soelaiman mengatakan kandungan nutrisi tidak akan berubah jika kotoran sapi dimanfaatkan dulu untuk biogas. Bahkan sebenarnya peternak bisa mendapat untung ganda karena sekaligus mendapatkan energi yang bisa dimanfaatkan untuk kompor ataupun penerangan.
Saat ini, pakan dari kotoran sapi sudah mulai dikenalkan Soelaiman kepada para peternak sapi di sekitar tempat usahanya.
Berikut juga usaha pemanfaatan biogas. Soelaiman berharap para peternak sapi bukan hanya bisa mencegah dampak buruk lingkungan dari kegiatan mereka, tapi juga menambah penghasilan.
"Saya ingin temuan-temuan seperti ini bermanfaat secara luas oleh masyarakat. Saya tidak pernah mematenkan temuan saya. Siapa saja bebas untuk menggunakannya," kata inovator yang telah menghasilkan 30 karya itu. (M-6) .miweekend@ mediaindonesia.com
 
 




Kotoran Sapi menjadi meja dan kursi

Pemanfaatan Limbah kotoran Ternak

 
Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dll. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, dan sebagainya. Apabila usaha peternakan semakin berkembang maka limbah yang dihasilkan juga akan semakin banyak.
Limbah ternak terbanyak biasanya dihasilkan dari ternak ruminansia seperti sapi, kerbau kambing, dan domba. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging sapi menghasilkan 25 kg feses.
Selain menghasilkan feses dan urine, dari proses pencernaan ternak ruminansia menghasilkan gas metan (CH4) yang cukup tinggi. Pada peternakan di Amerika Serikat, limbah dalam bentuk feses yang dihasilkan tidak kurang dari 1.7 milyar ton per tahun. Di Indonesia, emisi metan per unit pakan atau laju konversi metan lebih besar karena kualitas hijauan pakan yang diberikan rendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan kualitas rendah, semakin tinggi produksi metan.
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studi mengenai pencemaran air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total sapi dengan berat badannya 5000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat mencemari 9.084 x 107 m3 air. Selain melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86 % merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara kandungan air manure 65-85 % merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat.
Kehadiran limbah ternak dalam keadaan keringpun dapat menimbulkan pencemaran yaitu dengan menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan sapi yang paling hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari 6000 mg/m3, jadi sudah melewati ambang batas yang dapat ditolelir untuk kesegaran udara di lingkungan (3000 mg/m3).
Salah satu akibat dari pencemaran air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya kadar nitrogen. Senyawa nitrogen sebagai polutan mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya dapat menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya proses eutrofikasi, penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi yang terjadi di dalam air yang dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air.
Tinja dan urine dari hewan yang tertular dapat sebagai sarana penularan penyakit, misalnya saja penyakit anthrax melalui kulit manusia yang terluka atau tergores. Spora anthrax dapat tersebar melalui darah atau daging yang belum dimasak yang mengandung spora. Dampak limbah ternak memerlukan penanganan yang serius.

Penanganan Limbah Ternak

Penanganan limbah ternak akan spesifik pada jenis/spesies, jumlah ternak, tatalaksana pemeliharaan, areal tanah yang tersedia untuk penanganan limbah dan target penggunaan limbah. Penanganan limbah padat dapat diolah menjadi kompos, yaitu dengan menyimpan atau menumpuknya, kemudian diaduk-aduk atau dibalik-balik. Perlakuan pembalikan ini akan mempercepat proses pematangan serta dapat meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan. Setelah itu dilakukan pengeringan untuk beberapa waktu sampai kira-kira terlihat kering. Penanganan limbah cair dapat diolah secara fisik, kimia dan biologi. Berikut merupakan penjelasannya :
Pengolahan fisik
Pengolahan secara fisik disebut juga pengolahan primer (primer treatment). Proses ini merupakan proses termurah dan termudah, karena tidak memerlukan biaya operasi yang tinggi. Metode ini hanya digunakan untuk memisahkan partikel-partikel padat di dalam limbah. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam pengolahan secara fisik antara lain seperti floatasi, sedimentasi, dan filtrasi.
Pengolahana kimia
Pengolahan secara kimia disebut juga pengolahan sekunder (secondary treatment) yang bisanya relatif lebih mahal dibandingkan dengan proses pengolahan secara fisik. Metode ini umumnya digunakan untuk mengendapkan bahan-bahan berbahaya yang terlarut dalam limbah cair menjadi padat. Pengolahan dengan cara ini meliputi proses-proses sperti netralisasi, flokulasi, koagulasi, dan ekstrasi.
Pengolahan biologi
Pengolahan secara biologi merupakan tahap akhir dari pengolahan sekunder bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah cair. Limbah yang hanya mengandung bahan organik saja dan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, dapat langsung digunakan atau didahului denghan pengolahan secara fisik.
Pemanfaatan Limbah Ternak
Ada banyak manfaat yang dapat dipetik dari limbah ternak, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan energi, pupuk organik, media tumbuh dan lain-lain.

Limbah Ternak Sebagai Penghasil Gasbio

Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar gasbio. Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi. Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K (Lingaiah dan Rajasekaran, 1986).
Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2) (Simamora, 1989). Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Menurut Maramba (1978) produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima orang per hari.
Bahan gasbio dapat diperoleh dari limbah pertanian yang basah, kotoran hewan (manure), kotoran manusia dan campurannya. Kotoran hewan seperti kerbau, sapi, babi dan ayam telah diteliti untuk diproses dalam alat penghasil gasbio dan hasil yang diperoleh memuaskan (Harahap et al., 1980). Perbandingan kisaran komposisi gas dalam gasbio antara kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan sisa pertanian dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel Komposisi gas dalam gasbio (%) antara kotoran sapi
dan campuran kotoran ternak dengan sisa pertanian.
Jenis gas
Kotoran sapi
Campuran kotoran ternak dan sisa pertanian
Metan (CH4)
Karbondioksida (CO2)
Nitrogen (N2)
Karbonmonoksida (CO)
Oksigen (O2)
Propen (C3H8)
Hidrogen sulfida (H2S)
Nilai kalor (kkal/m3)
65.7
27.0
2.3
0.0
0.1
0.7
tidak terukur
6513
54-70
45-27
0.5-3.0
0.1
6.0
-
sedikit sekali
4800-6700
Sumber : Harahap et al. (1978).
Pembentukan gasbio dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer. Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan amoniak. Sedangkan pada tahap metanogenik adalah proses pembentukan gas metan. Sebagai ilustrasi dapat dilihat salah satu contoh bagan perombakan serat kasar (selulosa) hingga terbentuk gasbio.
Sedangkan bakteri-bakteri anaerob yang berperan dalam ketiga fase di atas terdiri dari :
1. Bakteri pembentuk asam (Acidogenic bacteria) yang merombak senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu berupa asam organik, CO2, H2, H2S.
2. Bakteri pembentuk asetat (Acetogenic bacteria) yang merubah asam organik, dan senyawa netral yang lebih besar dari metanol menjadi asetat dan hidrogen.
3. Bakteri penghasil metan (metanogens), yang berperan dalam merubah asam-asam lemak dan alkohol menjadi metan dan karbondioksida. Bakteri pembentuk metan antara lain Methanococcus, Methanobacterium, dan Methanosarcina.

Limbah Ternak Sebagai Pupuk Organik

Di negara China tidak jarang dapat dilihat pembuangan limbah peternakan disatukan penampungannya dengan limbah manusia, untuk kemudian dijadikan pupuk organik tanaman hortikultura. Selain itu ada juga yang mencampurnya dengan lumpur selokan, untuk kemudian digunakan sebagai pupuk. Sebanyak 8-10 kg tinja yang dihasilkan oleh seekor sapi per hari dapat menghasilkan pupuk organik atau kompos 4-5 kg per hari.
Farida (2000) mengungkapkan bahwa produksi kokon tertinggi diperoleh dari pemanfaatan 50 % limbah feces sapi yang dicampur dengan 50% limbah organik rumah tangga, yang bermanfaat untuk dijadikan pupuk organik.

Limbah Ternak Sebagai Bahan Pakan dan Media Tumbuh

Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tinja ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob.
Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50% (Farida, 2000).


Manfaat Limbah ternak lainnya :

Kotoran Sapi menjadi meja dan kursi

Para peneliti di Michigan State University bekerja sama dengan Departemen Pertanian AS (USDA) mengembangkan teknik pemrosesan dan pemurnian kotoran sapi agar menjadi serbuk yang siap dipakai sebagai material penguat serat. Kedengarannya menjijikan tapi jangan khawatir karena kotoran sapi yang sudah diolah tidak lagi berbau dan tidak membahayakan.
Sejak lama peternak tradisional memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk kompos alami yang hanya ditaburkan di sekitar tanamannya. Namun, karena jumlah peternakan yang semakin besar dan tidak sebanding dengan lahan garapan, kotoran sapi menjadi limbah. Bau kotoran sapi menjadi polusi yang mengganggu lingkungan perumahan. Sebagian peternak bahkan harus mengeluarkan uang begitu besar hanya untuk menangani limbah ini.
Menurut Tim Zauche, profesor kimia dari Universitas Winconson seorang peternak sapi perah rata-rata mengeluarkan 200 dollar AS untuk setiap sapinya dalam setahun hanya untuk urusan ini. Bahkan, karena tuntutan pemerintah dan penduduk sekitar, beberapa peternakan besar memasang sistem pengolahan yang mahal. Kotoran sapi diolah sehingga menghasilkan panas dan sumber gas metana sebagai bahan bakar. Residunya tidak lagi berbau serta bermanfaat sebagai kompos atau media bibit.
Namun, para peneliti berusaha memanfaatkannya lebih jauh sebagai material campuran pengganti serbuk gergajian untuk memperkuat serat. Seperti halnya produk yang menggunakan serbuk gergajian, serbuk dari kotoran sapi yang telah diolah dicampur dengan resin kemudian dicetak dengan pemanasan dan penekanan. Sejauh ini, serat yang menggunakan serbuk kotoran sapi sama bahkan lebih kuat daripada serat campuran gergaji kayu. Para ilmuwan di Michigan telah menguji coba berbagai kombinasi untuk menemukan campuran yang paling kuat.
Pembuatan Briket dan pengendali patogen cendawan mentimun
Di India dengan adanya tinja sapi sebanyak 5 kg perekor dan kerbau 15 kg perekor, oleh pemerintah India disarankan untuk dihasilkannya dung cake (briket) secara massal sebagai sumber energi. Dilaporkan dari percobaan Basak and Lee (2001) bahwa tinja sapi yang segar pada perbandingan 1:2 mampu mengendalikan (100%) patogen cendawan akar mentimun (Cucumis sativus L.) dari serangan root rot oleh Fusarium solani f.sp. cucurbitae Synder and Hansen, dan layu oleh Fusarium oxysporum f.sp. cucumerinum Owen. Tinja sapi kemungkinan memiliki mekanisme pertahanan dan memberikan perlindungan pada bagian leher tanaman.

Daftar Pustaka :
Nurtjahya, Eddy. Dkk. 2003. Pemanfaatan limbah ternak ruminansia untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rabu, 16 November 2011

Warna Nyala api

Warna Nyala Logam Alkali

 Salah satu ciri khas dari logam alkali adalah memiliki 
spektrum emisi. Sprektum ini dihasilkan bila larutan garamnya dipanaskan dalam nyala Bunsen, atau dengan mengalirkan muatan listrik pada uapnya. Ketika atom diberi energi (dipanaskan) elektronnya akan tereksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ketika energi itu dihentikan, maka elektronnya akan kembali lagi ke tingkat dasar sehingga memancarkan energi radiasi elektromagnetik.

Menurut Neils Bohr, besarnya energi yang dipancarkan oleh setiap atom jumlahnya tertentu (terkuantitas) dalam bentuk spektrum emisi. Sebagian anggota spektrum terletak di daerah sinar tampak sehingga akan memberikan warna-warna yang jelas dan khas untuk setiap atom.

Warna-warna yang ada pada tabel tersebut hanya merupakan panduan. Hampir setiap orang yang melakukan uji nyala berbeda dalam mengamati dan menjelaskan warna yang terjadi. Sebagai contoh, beberapa orang menggunakan kata "merah" beberapa kali untuk menunjukkan beberapa warna yang bisa sangat berbeda satu sama lain. Disamping itu, ada juga yang menggunakan kata seperti "merah padam" atau "merah tua" atau "merah gelap", tapi tidak semua orang mengetahui perbedaan antara kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan warna ini.

Asal-usul warna nyala

Warna nyala dihasilkan dari pergerakan elektron dalam ion-ion logam yang terdapat dalam senyawa. Sebagai contoh, sebuah ion natrium dalam keadaan tidak tereksitasi memiliki struktur 1s2 2s2 2p6 . Jika dipanaskan, elektron-elektron akan mendapatkan energi dan bisa berpindah ke orbital kosong manapun pada level yang lebih tinggi – sebagai contoh, berpindah ke orbital 7s atau 6p atau 4d atau yang lainnya, tergantung pada berapa banyak energi yang diserap oleh elektron tertentu dari nyala. Karena sekarang elektron-elektron berada pada level yang lebih tinggi dan lebih tidak stabil dari segi energi, maka elektron-elektron cenderung turun kembali ke level dimana sebelumnya mereka berada – tapi tidak musti sekaligus. Sebuah elektron yang telah tereksitasi dari level 2p ke sebuah orbital pada level 7 misalnya, bisa turun kembali ke level 2p sekaligus. Perpindahan ini akan melepaskan sejumlah energi yang dapat dilihat sebagai cahaya dengan warna tertentu. Akan tetapi, elektron tersebut bisa turun sampai dua tingkat (atau lebih) dari tingkat sebelumnya. Misalnya pada awalnya di level 5 kemudian turun sampai ke level 2. Masing-masing perpindahan elektron ini melibatkan sejumlah energi tertentu yang dilepaskan sebagai energi cahaya, dan masing-masing memiliki warna tertentu. Sebagai akibat dari semua perpindahan elektron ini, sebuah spektrum garis yang berwarna akan dihasilkan. Warna yang anda lihat adalah kombinasi dari semua warna individual. Besarnya lompatan/perpindahan elektron dari segi energi, bervariasi dari satu ion logam ke ion logam lainnya. Ini berarti bahwa setiap logam yang berbeda akan memiliki pola garis-garis spektra yang berbeda, sehingga warna nyala yang berbeda pula.

Melakukan uji nyala

Rincian prosedur :
- Bersihkan sebuah kawat platinum atau nichrome (sebuah alloy nikel-kromium) dengan mencelupkannya ke dalam asam hidroklorat pekat dan kemudian panaskan pada Bunsen. Ulangi prosedur ini sampai kawat tidak menimbulkan warna pada nyala api Bunsen.

- Jika kawat telah bersih, basahi kembali dengan asam dan kemudian celupkan ke dalam sedikit bubuk padatan yang akan diuji sehingga ada beberapa bubuk padatan yang menempel pada kawat tersebut. Setelah itu pasang kembali kawat pada nyala Bunsen.

- Jika warna nyala memudar, masukkan kembali kawat ke dalam asam dan pasang kembali pada nyala seolah-olah anda sedang membersihkannya. Dengan melakukan ini, anda akan sering melihat kilasan warna yang sangat singkat namun intensif.